Makna Kapuhunan Makanan dalam Masyarakat Banjarmasin Kalimantan Selatan: Kajian Etnolinguistik

Main Article Content

Muhammad Zulfikar Pramono
Millatuz Zakiyah

Abstract

Setiap daerah di Indonesia memiliki pamali atau larangan yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat, termasuk di Banjarmasin. Salah satu jenis pamali yang cukup menonjol di daerah ini adalah pamali yang berkaitan dengan makanan. Pamali makanan memiliki peran penting dalam budaya masyarakat Banjar karena diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu (1) bagaimana bentuk dan jenis pamali dalam masyarakat Banjar, serta (2) apa makna dan fungsi pamali dalam kehidupan sosial masyarakat Banjar. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara dan studi dokumen selama periode 2024–2025. Informan yang dipilih adalah penduduk asli Banjar yang telah tinggal di daerah tersebut lebih dari 40 tahun, memahami bahasa dan budaya Banjar, serta merupakan bagian dari suku Banjar. Analisis data menggunakan pendekatan semantik yang meliputi identifikasi, klasifikasi bentuk, serta pengaitan antara bentuk, makna, dan fungsi pamali makanan. Salah satu temuan utama dalam penelitian ini adalah pamali kapuhunan, yaitu larangan menolak makanan yang diberikan oleh orang lain. Pamali ini tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga berfungsi sebagai pengatur norma dan etika dalam interaksi sosial masyarakat Banjar.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Pramono, M. Z., & Zakiyah, M. (2025). Makna Kapuhunan Makanan dalam Masyarakat Banjarmasin Kalimantan Selatan: Kajian Etnolinguistik. J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah, 4(4), 2271–2283. https://doi.org/10.56799/jceki.v4i4.9392
Section
Articles

References

Akbar, M. A. (2025). Kepercayaan Terhadap Kapuhunan Di Masyarakat Banjar. Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory, 3(1)

Dini, R., Anggrestia, N. V., & Afkar, T. (2024). Makna dan Fungsi Ungkapan Pamali dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat di Desa Bendung Kabupaten Mojokerto: Kajian Etnolinguistik. Dinamika Pembelajaran: Jurnal Pendidikan Dan Bahasa, 1(3).

Faizal, A., & Arianti, L. (2018). Persepsi Masyarakat Banjar Terhadap Kapuhunan. Psycho Idea, 16(2)

Firdaus, E. N., Kriswanto, M., Padang, N. B., Saputra, K. J., Arifin, N. H., Fatmawati, G., & Ardhian, D. (2022). Leksikon tanaman pada boneka Petra dalam ritual kematian masyarakat Tengger sebagai simbol leluhur: kajian antropolinguistik. SeBaSa, 5(2)

Ganie, Tajuddin Noor. (2014). Menguak Mitos Pamali Banjar. Banjarmasin: Rumah Pustaka Folklor Banjar.

Hanifah, L., Rahayu, I. A., & Rinata, S. (2019). Bentuk istilah-istilah upacara panggih pernikahan adat Jawa kajian etnolinguistik. Listi, 15(2)

Harpriyanti, H., & Komalasari, I. (2018). Makna Dan Nilai Pendidikan Pamali Dalam Masyarakat Banjar Di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah. STILISTIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 3(2)

Komalasari, I., Aswadi, D., Winda, N., Wulandari, N. I., Susilawati, E., & Akhmad, H. B. (2022). PENGENALAN PAMALI SEBAGAI BUDAYA BANJAR MELALUI RRI PRO 4 BANJARMASIN. Batuah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2)

Laila, W. R., & Zakiyah, M. (2023). Eksistensi Perempuan Jawa dalam Ungkapan Pamali di Kabupaten Gresik: Tinjauan Antropolinguistik. LOKABASA, 14(2)

Lutfi. (2020). Menghargai Makanan: Pentingnya Pamali 'Makan Harus Dihabiskan, Ayamnya Biar Gak Mati!' dalam Pembentukan Perilaku Makan Anak. Jurnal Nutrisi Anak, 10(2)

Rismaya, R. & Machdalena, S. (2021). Makna dan Fungsi Pamali Seputar Makanan bagi Masyarakat Kabupaten Sumedang. Lokabasa, 12(1)