Pengungkapan Diri (Self Disclosure) dalam Komunikasi Antar Pribadi Remaja
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana remaja melakukan pengungkapan diri dalam komunikasi antar pribadi mereka, baik dalam interaksi tatap muka maupun melalui platform digital. Penelitian ini juga bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan diri serta dampaknya terhadap kualitas hubungan interpersonal di kalangan remaja. Metodologi penelitian dalam karya tulis ilmiah menggunakan studi literatur bersumber dari artikel menggunakan database dari 2012 sampai 2023 dengan topik keterbukaan diri. Data yang sudah dikumpulkan dari beberapa artikel yang relevan selanjutnya dilakukan analisis dengan metode sintesis data. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu self-disclosure meliputi dua jenis informasi utama: informasi deskriptif, yang mencakup fakta-fakta pribadi seperti alamat atau pekerjaan, dan informasi evaluatif, yang melibatkan perasaan atau pendapat pribadi tentang hal-hal tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri adalah kepercayaan dan rasa dipahami dari lawan bicara, serta lingkungan sosial yang dapat memberikan dorongan atau hambatan untuk berbagi informasi pribadi.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Almawati, D. E. (2021). Self Disclosure Pada Pertemanan Dunia Maya Melalui Media Sosial Twitter. Skripsi.
Akbar, Zarina, & Faryansyah, R. (2018). Pengungkapan Diri Di Media Sosial Ditinjau Dari Kecemasan Sosial Pada Remaja. Ikraith-Humaniora, 2(2008), 2
DeVito, J. A. (2011). Komunikasi Antar Manusia. Profesional Books.
Jayanti, U. F., & Palupi, M. A. (2020). Keterbukaan Diri Anak Kepada Orang Tua Mengenai Hubungan Asmara (Studi Keterbukaan Diri Anak yang Tinggal Terpisah dengan Orang Tuanya Mengenai Hubungan Asmara) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Kaligis, F. (2021). Riset: usia 16-24 tahun adalah periode kritis untuk kesehatan mental remaja dan anak muda Indonesia. Theconversation. com: https://theconversation. com/riset-usia-16-24-tahun-adalah-periode-kritis-untukkesehatan-mental-remaja-dan-anak-muda-indonesia-169658.
Netrawati, N., Khairani, K., & Karneli, Y. (2018). Upaya Guru BK untuk Mengentaskan Masalah-Masalah Perkembangan Remaja dengan Pendekatan Konseling Analisis Transaksional. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 2(1), 79.
Oktaviani, R., & Susilo, A. T. (2020). Hambatan Keterbukaan Diri dengan Teman Sebaya: Studi Kasus Dua Siswa SMK. Jurnal Psikoedukasi dan Konseling, 4(2), 52-66.
Prihantoro, E., Damintana, K. P. I., & Ohorella, N. R. (2020). Self disclosure generasi milenial melalui second account Instagram. Jurnal Ilmu Komunikasi, 18(3), 312-323.
Siregar, M. A., & Setiasih, S. (2022). Peran Relasi Teman Sebaya terhadap Hubungan Keterbukaan Diri dan Kesepian pada Remaja. Jurnal Ecopsy, 9(2), 161-168.
Wozniak, A. (2015). A grounded theory exploration of the experience of disclosing and not disclosing in mother-adolescent daughter relationships (Doctoral dissertation, University of Guelph).
Yunita, R. (2019). Aktivitas pengungkapan diri remaja putri melalui sosial media twitter. Jurnal Komunikasi, 10(1), 26-32.
Zola, N., Ilyas, A., & Yusri, Y. (2017). Karakteristik Anak Bungsu. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 5(3), 109-114.