Visual Naratif dan Mitos Ketampanan Karakter Wang So dalam Drama Korea Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo
Main Article Content
Abstract
Representasi fisik dalam media populer sering digunakan untuk membangun identitas karakter sekaligus mereproduksi nilai-nilai budaya mengenai ketampanan, maskulinitas, dan penerimaan sosial. Drama Korea Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo menghadirkan karakter Wang So yang memiliki luka di wajah sebagai penanda visual utama dalam pembentukan identitas dan perjalanan karakternya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi luka wajah Wang So serta maknanya dalam konstruksi identitas, maskulinitas, dan penerimaan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes yang meliputi tahapan denotasi, konotasi, dan mitos. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap adegan-adegan kunci dalam drama, kemudian dianalisis dengan mengaitkannya pada teori representasi Stuart Hall, konsep narasi visual Trischa Goodnow, serta teori beauty myth dari Naomi Wolf. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka di wajah Wang So pada tingkat denotatif berfungsi sebagai penanda kondisi fisik yang membedakannya dari karakter lain. Pada tingkat konotatif, luka tersebut merepresentasikan stigma, penolakan sosial, dan pergulatan identitas yang dialami tokoh. Sementara pada tingkat mitos, representasi tersebut menunjukkan bahwa ketampanan dan maskulinitas bukanlah karakteristik yang bersifat alamiah, melainkan konstruksi budaya yang dapat dinegosiasikan melalui pengalaman, penerimaan diri, dan pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan adanya pergeseran makna dari stigma fisik menuju legitimasi, kepemimpinan, dan otoritas yang lebih humanis.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Arbia, A., & Sugitanata, A. (2024). Integrasi teori stigma Erving Goffman terhadap keadilan sosial bagi good looking dan diskriminasi untuk bad looking. Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Tata Negara dan Perbandingan Mazhab, 4(1), 110–124. https://doi.org/10.59259/jd.v4i1.125
Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang.
Budiono, L. A., & Masing, M. (2022). Emosi dalam perspektif lintas budaya. Innovative: Journal of Social Science Research, 2(1), 579–584.
Dyah, M., Utari, N., Istiqlala, A., & Hikmah, S. (2024). Representasi maskulinitas pria dalam iklan Kahf edisi Life Is a Journey #JalanYangKupilih (Analisis semiotika Roland Barthes). Jurnal Literasi Media Komunikasi, 8(1), 112–124. https://doi.org/10.51544/jlmk.v8i1.4980
Goodnow, T. (2020). Narrative theory: Visual storytelling. In P. Messaris & L. Humphreys (Eds.), The handbook of visual communication: Theory, methods, and media (2nd ed., pp. 271–284). Routledge.
Jessia, S., & Putri, M. A. (2022). Representasi kecantikan dalam drama Korea: Analisis semiotika representasi konsep kecantikan perempuan dalam drama Korea True Beauty. Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 146–148. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Muayyanah, F., Khuzaemah, E., & Mulyaningsih, I. (2022). Celaan fisik pada film Imperfect karya Ernest Prakasa (Kajian mitos kecantikan Naomi Wolf). Medan Makna: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan, 20(1), 85–99. https://doi.org/10.26499/mm.v20i1.4128
Ningrum, E. S. (2022). Representasi maskulinitas pada tokoh Matt dalam film The Intern. Jurnal Kajian Komunikasi dan Budaya, 10(1), 1–16.
Ong, A. G., Azzahra, Z. N., Muchtar, H. A. N., & Balkis, G. R. (2024). Representasi mitos maskulinitas alternatif dalam film Terlalu Tampan: Perspektif semiotika Roland Barthes. Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial, 3, 9–21.
Rahmawati, H., Faiz, M. S., & Fitri, H. (2025). Analisis make-up dan kostum dalam menciptakan diskriminasi kecantikan dalam drama serial Korea Selatan True Beauty. Jurnal Komunikasi dan Budaya Populer, 9(2), 894–904.
Revilliano, M. I. (2023). Budaya patriarki dan pengaruhnya terhadap gerakan perubahan feminisme dalam organisasi. Jurnal Sosial Humaniora, 1(2), 150–159.
Koulton, R. G., & Murray, A. (1890). The ancient classical drama. Clarendon Press.
Riskiy, S. R., & Hapsari, R. (2022). Interpretasi maskulinitas pada iklan skincare pria (Studi resepsi Stuart Hall pada khalayak pria). BroadComm, 4(1), 45–56. https://doi.org/10.53856/bcomm.v4i1.234
Sabila, Z., Abidin, Z., & Poerana, A. F. (2023). Make-up dan identitas: Konstruksi identitas diri pengguna make-up Korea (Studi fenomenologi remaja akhir di Cikarang Barat). Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(9), 431–437. https://doi.org/10.5281/zenodo.7968730
Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In S. Hall, D. Hobson, A. Lowe, & P. Willis (Eds.), Culture, media, language (pp. 128–138). Hutchinson.
Sugiyono. (2014). Memahami penelitian kualitatif. Alfabeta.
Wijaya, M. I., & Karkono, K. (2025). Mitos lelaki ideal dalam novel Mustika Zakar Celeng karya Adia Puja: Studi semiotika Roland Barthes. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 8(1), 59–74. https://doi.org/10.30872/diglosia.v8i1.1122
Wolf, N. (1991). The beauty myth: How images of beauty are used against women. William Morrow.